23 Mei 2008

Karena Ini Bukan Cinta

Ayolah, beri aku tanda
Tak perlu dengan keindahan kata
Cukup anggukan setuju di kepala
Meski kutahu ini cuma angan-belaka


Karena ini bukan cinta,
bukan ini yang kurasa,
Kebohongan saja ini semua,
bukankah ini yang nyata?


Karena harapan telah lama kurindu,
menggumpal sesak di dada
Katakan saja ini cinta petaka

itu lebih mudah dicerna
daripada terlena jeratan cinta
dengan siksa tiada habisnya


Karena ini bukan cinta,
bukan ini yang kurasa,

Hanya lelah berharap, terpuruk itu asa
saat cinta cuma milikku saja
pergi jauh entah kemana

Lalu, kegetiran yang beracun ini
mengalir bebas sesuka hati
yang menjangkit di taman jiwa yang bersedih


Karena ini bukan cinta,
bukankah ini yang nyata?

22 Mei 2008

Aku rindu padamu, bapak...

Aku rindu padamu, bapak....
Aku ingin mengadu padamu

Tentang duka ini,
Tentang rasa ini,
tentang ini dan ini


Aku sangat rindu..........

21 Mei 2008

My Feel is today

Benar kata seorang temen saat susana hati lagi gak enak antara emosi dan senang beda tipis banget. Akhir-akhir ni seperti itu yang ku rasakan, g tau knp. Rasa benci, rasa muak akan apa yang sudah terjadi benar-benar kuat. Untungnya hari ini g begitu banyak kerjaan. Aku sengaja berangkat lebih santai, agak siang dibanding hari-hari lain, sampe tempat kerja sekitar jam 8 lah,pikirku… Eh..sampe t4 kerja ternyata bapak sudah ada di ruangan. Lho..!!! katanya mau survey ke Lombok. Informasi dari mana kemarin, kok g ada yang tepat. Padahal kemarin aku buru-buru banget ambil GPS untuk nganter ke rumah beliau, yang katanya pagi sekali bapak berangkat. Tapi ya Alhamdulillah juga sih, gak ada beban lagi, yang penting GPS sudah aku anter gitu aja.

Sip..sip..sip…Lets go my computer…aku siap lakukan aktifitas, bantu aku yach…!!!.Basmillah…Buat Weekly project yang Telkom, handle daily report XL Medan, handle PO. Lebih senang lagi pagi ni dah ada yang hibur…dirimu yang baru datang Diklat dari luar kota, beberapa hari g pernah oll. Kangen juga…. Padahal sebenarnya dia selalu aku cuekin. Ya..mo gimana lagi klo pagi emang diharap jangan ganggu aku dulu… INGAT YA…bagi siapapun DILARANG GANGGU AKU KLO PAGI…APAPUN ALASANNYA DILARANG GANGGU, KLO G BNR-BNR PENTING. Tp khusus buat dia aku kasi dispensasi tersendiri, dia baik, dia selalu kirimi lagu-lagu baru ke aku, hehehehe….

Weekly report jam 11 dah jadi, dah siap untuk bahan meeting besok di MGO, SBB. Nunggu pengiriman material, katanya hari ini datang, berkali-kali aku coba hubungi ke kantor si pabrikan…kyknya mati, g ada nada sambungnya sama sekali. Telp ke Assisten managing director 2 nomor gak diangkat juga, telp ke head of production katanya lagi g masuk kerja sakit. Yang bener donk…trus aku mau conform siapa, material mau dikirim kpn… G jelas semua. Padahal temen-temen dilapangan tinggal nunggu material itu aja supaya bisa melanjutkan kerja. OK, mungkin gpp lah, aku nunggu bentar, barang kali mrk conform ke aku. Eh benar juga.., Ass managing telp, katanya material dikirim selepas istirahat. OK aku tunggu, aku cm minta kepastiannya…

Semua invoice untuk pembayaran dah aku siapkan. Temenku ngajak aku ke notaries… gak ada salahnya ikut, semua berkas aku titipkan ke kasir. Abis shalat dhuhur aku berangkat ke notaries, di SDA. Wadaw..ya ini aku bisa dibuat spot jantung. Dia baru aja bisa mengendarai mobil, sekarang mau naik mobil sendiri g pake sopir. Bener..dijalan rasanya tegang, tapi untungnya dia lewat dalam, jadi gak banyak kendaraan, gak macet juga. Berangkat dan pulang dengan selamat, Alhamdulillah..meski dengan hati was-was…. Salut buat temenku, berani nekat, aku sendiri belum tentu seberani itu. Abis kecelakaan sepeda motor yang dah lewat 2 thn aja, sampe skg masih takut naik sendiri di jln raya.

Sampe ktr, perasaan itu muncul kembali, kuat banget..rasanya benci, tapi gak tau benci pada siapa. Dia kah…??? Ntahlah, mungkin aja. Ya dah lah..lebih baik aku shalat, trus pulang. Temen-temen juga dah pada kabur, mentang-mentang g ada bpk..jam 4 dah siap-siap semua. Kenapa sih…emang kalau ada bapak kok g ada yang berani pulang agak siangan tho..aneh mereka….

Ya wis lah..terserah mereka, aku juga mau go home....

Kau Tunggu Saja.....!!!!

Kucoba ungsikan hati yang terlarang

Menatap langit tiada berbintang

Sedetik terlintas impian dan kekecewaan

Ku berjalan di lorong-lorong kegelapan malam

Ditemani seorang kawan dari diriku sendiri

Menanti misteri yang tiada pernah datang

Sakit….Perih… itulah adanya

Kau..Tunggu sajalah

Semua akan segera berakhir

Berakhir tuk selamanya

Segala tipu daya dan akalmu

Takkan pernah berlaku lagi untukku

Yang kau manfaatkan karena lemahnya jiwaku

Kau…tunggu sajalah….!!!!

Takkan ada lagi cerita tentangmu di hidupku

Tak kan pernah kau bisa raih aku kembali

Tunggu saja…!!!!!

19 Mei 2008

Harapan Bodoh


Apa kau ingat waktu gadis itu datang untuk pertama kalinya,

Jauh-jauh hanya sekedar tuk temui dirimu

Gadis yang polos, gadis yang sederhana

tiada tau apa-apa, tiada dosa


Ingatkah kau akan hal itu…???


Kau telah menghancurkan sebagian dari hidupnya,

Kau telah merubah apa yang ada pada dirinya


Haruskah dia menangis, meratapi semuanya…???

Tidak…Dia gadis yang tegar.

Hati dan perasaannya masih sama

Masih murni, masih begitu sempurna hanya untukmu

Meski sekarang kata-katanya tak lagi mampu menembus hatimu

Dia punya impian


Hanya di kesunyiannya lah kau jadi miliknya
hanya di tidurnya kau jadi mimpinya

Sekarang, esok, dan hari-hari berikutnya
tak ada lagi dirimu dalam kesunyiannya.

Hanya kilauan cahaya putih masa lalu yang berterbangan
yang seiring waktu akan jatuh padam dengan sendirinya.
Terlalu senang dan bodoh dia berkorban
termakan oleh wewangian dan taman bunga yang indah
yang tak tahu di dalamnya banyak lebah.


Sadarnya terbangun,
lelah, lelah dan sia-sia
ketika sebuah pengorbanan tak dibalas dengan indah.
Dia tak lari, dia tak sembunyi dan dia tak marah
karena dia belum merasa lebih baik dari yang terbaik
dan pasti akan jadi yang terbaik

Wanita Yang Mengarang Harapan

Oleh: Didik L. Pambudi


Dia adalah wanita yang kukenal di suatu pagi ketika aku hendak mengisi dadaku dengan udara segar. Dia datang begitu saja tanpa salam tanpa senyuman. Ia manis dan menarik seperti biasanya gadis yang biasa bangun pagi. Tetapi yang paling menarik dari dirinya adalah kesukaannya pada imajinasi.

“Imajinasi membuat kita selalu memiliki harapan. Tanpa harapan kita tak tahu untuk apa kita hidup,” katanya.

Aku sendiri tak mengerti mengapa aku tertarik kepada wanita yang selalu muncul di kala fajar tiba. Ia tidak sedang berolahraga. Ia seperti juga aku hanya bangun untuk menikmati kicau burung dan sejuk embun.

“Burung-burung ini akan segera punah jika kita tak pernah menghargai perannya untuk menyenangkan para penghuni bumi,” katanya.

Aku tak mengerti, mengapa ia peduli, tetapi jelas aku sangat senang berada di dekatnya.

“Mungkin aku terlalu sentimentil ya? Aku memang seorang pengarang,” katanya.

“Pengarang apa?” Tanyaku.

“Apa saja.”

“Puisi?”

“Ya.”

“Cerpen?”

“Heeh.”

“Novel?”

“Kadang.”

“Skenario?”

“Pernah.”

“Apa saja.”

“Kehidupan?”

“Ya.”

“Kemausiaan?”

“Alam?”

“Kadang.”

“Harapan?”

“Selalu.”

Aku tak pernah memahami mengapa gadis itu begitu senang mengarang. Ia mengarang dan menulis tentang apa saja. Sering aku malah tak mengerti apa yang dikarangnya, apa yang ditulisnya. Terlalu aneh.

“Mengapa kau menulis seperti ini? Begitu singkat begitu sulit dimengerti?”

“Ini puisi.”

“Apakah puisi harus ditulis demikian sulit dimengerti agar yang bisa memahaminya hanya orang-orang pintar saja?”

“Tidak juga.”

“Jadi untuk apa kau tulis seperti ini?”

“Karena puisi ini memuat harapan.”

“Mengapa harapan tak pernah bisa dijelaskan dengan bahasa yang mudah dan gampang?”

“Karena mewujudkan harapan memang tidak mudah dan gampang.”

“Jadi untuk apa kita memiliki harapan jika tak pernah bisa mewujudkannya?”

Dia melihatku dengan marah, “Berkali-kali aku katakan, kita terus hidup karena masih memiliki harapan. Tanpa harapan buat apa kita hidup?”

“Lantas mengapa harapan harus dibahasakan dalam bahasa yang sulit?”

“Karena demikianlah adanya. Karena begitulah peraturan yang ada. Peraturan yang membuat kita tak boleh bebas bicara harapan tanpa mengaduk-aduknya hingga pekat bagai comberan. ”

Dia memang tak pernah bisa mengggambarkan harapannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Ia menunjukkan padaku puisi, cerpen, cerbung, novelet, novel, skenario, bahkan roman yang ditulisnya, tetapi semuanya ditulis dalam bahasa yang tak bisa kumengerti.

Begitupun, tentu aku tak merasa perlu lagi untuk bertanya. Bukan karena aku akhirnya bisa mengerti sedikit demi sedikit. Aku hanya tak ingin kehilangan teman yang menyenangkan saat berbincang di kala fajar tiba.

Dia memang tidak selalu hadir untukku. Dia hanya datang setiap fajar tiba. Lantas undur diri sebelum orang-orang bergegas menuju kesibukan masing-masing.

“Mengapa begitu cepat?” Tanyaku.

“Aku harus menulis, harus mengarang,” katanya.

“Tentang harapan?”

Ia tertawa. “Kamu sesungguhnya berbakat menjadi seorang penulis yang baik. Kamu juga menyukai fajar.” Ia berlalu.

Aku tak tahu, apakah aku berbakat menjadi pengarang. Jika yang dimaksudnya sebagai seorang pengarang adalah seorang yang membicarakan harapannya dengan kalimat-kalimat yang tak pernah bisa kumengerti maka sesungguhnya gadis itu telah salah. Aku tak pernah bisa menggambarkan apa pun dengan kalimat yang sulit dimengerti karena dalam kalimat yang paling sederhana pun aku bahkan mengalami kesulitan besar untuk mengungkapkannya.

Jika yang dimaksudnya, aku berbakat mengarang karena menyukai fajar maka ia pun salah, aku tak pernah mampu mengambarkan indahnya fajar. Mendeskripsikan keindahannya bagi orang-orang. Aku hanya menyukai fajar. Aku menyukai sejuk dan embunnya.

”Aku tak akan pernah mampu menggambarkan keindahan fajar dalam bahasa yang begitu indah, dalam kalimat yang penuh dengan kata-kata puitis,” ujarku ketika kami bertemu lagi keesokan hari, menjelang fajar.

“Fajar memang susah untuk digambarkan keindahannya. Kita hanya menunggu-nunggunya tetapi ia tak juga muncul,” ujarnya dengan mimik sedih.

“Kau mungkin gila,” aku bercanda, ”setiap hari kita bersama duduk berdua menunggu fajar dan menikmatinya ketika fajar itu tiba. Sudah berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bahkan sebentar lagi pun fajar itu akan terbit.” Lantas aku tertawa.

“Apa yang kau tertawakan. Memang tak pernah ada fajar yang sejati. Tak pernah ada harapan yang jelas. Harapan yang kau lihat di langit yang tampak memerah karena mentari mulai beranjak naik itu hanya harapan semu. Harapan yang cuma bisa kau pandang dan kau impikan, tetapi tak pernah bisa kau nikmati. Aku tak akan pernah kenyang dengan harapan atau fajar yang kau saksikan di langit itu,” ia memakiku. Aku tentu tak sakit hati. Ia sudah biasa memaki kebodohanku yang dianggapnya tak pernah peduli pada harapan.

“Kita harus memperjuangkan harapan. Meskipun harapan itu cuma angan-angan yang tak pernah terwujud. Kita harus memperjuangkannya dengan cara kita masing-masing. Belajarlah membuat puisi,” ujarnya suatu kali memberi nasehat.

Tetapi aku tak pernah mengerti, bagaimana cara menuliskan harapan pada puisi. Ia memang telah menunjukkan ratusan puisinya yang katanya bercerita tentang harapan. Tetapi apa yang ia tulis itu ketika kubaca hanya rangkaian kalimat yang bercerita tentang perang; kematian, pengkhianatan, perampokan, korupsi, pembunuhan, kelaparan…. Aku tak pernah melihat harapan dalam puisi yang diceritakanya itu. Begitupun, aku kali ini tak ingin lagi menyatakan kebodohanku itu. Aku memang ingin selalu jujur padanya, tetapi aku tak ingin membuatnya menderita karena aku tak melihat harapannya. Aku bahkan berjanji padanya akan membuat satu puisi yang memuat harapan meskipun aku tak tahu apakah aku akan sanggup membuatnya.

“Kita memang harus memperjuangkan harapan. Terima kasih kamu juga akhirnya mau memperjuangkan harapan,” ujarnya yang bahkan harus mengusap air mata saking terharu mendengar janjiku.

Kemudian kami kembali bercerita tentang harapan. Sekali ini aku tak mau lagi mendebatnya. Aku tak pernah memprotes ceritanya tentang harapan yang tak pernah bisa kubayangkan seperti apa bentuknya. aku hanya mengikuti saja alur ceritanya. Aku amini saja ketika ia bercerita tentang petani renta yang kehilangan sawah, nelayan yang kini tak mampu lagi menjaring ikan di laut, prajurit yang gugur di medan laga entah untuk kepentingan siapa, gadis-gadis usia belasan yang telah mendagangkan kelamin mereka demi sesuap nasi. Aku mengiyakan saja seluruh ceritanya hingga kami berpisah.

Itulah fajar terakhir yang kunikmati bersamanya. Ia tak pernah lagi terlihat meskipun aku terus menunggunya dengan rasa rindu yang mendalam. Kemudian aku mendengar, banyak orang bercerita bahwa seorang gadis pengarang yang menentang penindasan hilang entah ke mana.

Aku tak tahu apakah sang gadis pengarang adalah gadis yang mengarang begitu banyak puisi, cerpen, cerbung, novelet, novel, skenario, bahkan roman. Aku tak tahu apakah gadis hilang itu adalah gadis yang menemaniku setiap fajar untuk mendongengiku tentang harapannya. Aku tak tahu.

Aku kini hanya mengungkapkan kerinduanku pada gadis itu dengan menuliskan berbagai puisi, cerpen, cerbung, novelet, novel, skenario, bahkan roman yang bercerita tentang tiadanya harapan. Aku tak pernah tahu bagaimana bentuk harapan itu. Aku hanya ingin membuatnya senang karena di satu puisinya ia menuliskan kalimat “di negeri biadab ini, mana pernah ada harapan”.

Kupikir, biarlah kalimat itu saja yang selalu kujadikan tema tulisanku

18 Mei 2008

Polling by SMS

Ternyata ketakutan melewati weekend sendiri hilang. Sambil lihat televisi..pertandingan bulu tangkis Indonesia melawan China, ku iseng-iseng forward sms dari temen sumbawa ke beberapa temen. Yach…semacam polling lah.

Ada kekecewaan sih, Indonesia gagal membawa piala uber. Tapi pertandingan masih seru lho dibanding sebelumnya waktu atlet Thomas. Mereka gagal masuk final, permainan Taufik dkk juga gitu, sudah menurun drastis. Waktu ganda putri..wih seru abis, sampe aku ikut deg-degan. Meski gitu tim Indonesia sudah berjuang abis-abisan, salut buat mereka. Tetep semangat yo…!!! Hidup tim Indonesia…Merdeka !!!

Sms yang ku forward udah dibalas semua, tapi kok kebanyakan jawaban sama yach..

1. “3 hal yg g km lupain dari aku?”

  • badannya kecilnya, perhatiannya n pinternya
  • Km Lucu, km baik, km unik
  • Nama Ay’, kebaikan ay’, n makanan favorit ay
  • Km manja, km egois, km tlu berperasaaan
  • Km jahat, km gak teagaan, km keras kepala

~~ Nah lho…masak aku unik~~


2. 2 Hal yg musti ku ubah (Ni idem semua kyknya)

  • egois n gak bisa di rayu
  • Berat badan
  • Waktu mkn
  • Makan gak pernah teratur

3. Panggilan km untuk aku :

  • Ayik
  • Isty
  • Cay
  • Non
  • A…
  • Ibu
  • Neng
  • Dek
  • Yang
  • Mba
  • Anak muda
  • Yang ti / Nek ( Yang ini jahat banget..masak aku dipanggil “yang ti”)

4. Nama aku di HP km :

  • A..
  • Ay
  • Ice Tie
  • Isty
  • Ayik
  • im-isti

5. Kata terbaik untuk gambarin aku :

  • A nice girl
  • Centil dan suka bantu, hehehe...
  • Km teman yang paling baik
  • Km keras kepala (Klo ini bukan kata terbaik)
  • Km baik hati
  • Km jarang minta bantuan orang lain
  • Km suka membantu
  • Km tuh paling jahat sm aku ( hiks… aku dah mencoba baik lho)
  • Km g pernah peduliin aku, sms g pernah di bls, di telp g pnh diangkat, mau km apa sih…

6. Km jadiin aku sbg :

  • Best friend
  • Adik
  • istri muda, temen sharing
  • Sister
  • Partner
  • Tmn plg istimewa
  • Tmn paling jahat

7. Pesan km buat aku :

  • Tetep maju n semangat yah!
  • Cepet nikah ya…!!!
  • Pandang ke depan, n jangan ulangi kesalahan
  • Jangan tlu serius ibu, n jng lupa mkn…semangat ok!!!
  • Jng tlu lemah, jng tlu berperasaan, nti buat km tersiksa
  • Yang sudah ya sudah… dia g’ pnh tau klo disayang, cry g lain aja neng
  • Ay… kerja ya kerja, ingat tuh km perlu refresing
  • Ingat kewajiban sama yg diatas dek..dosa adek byk, siapa tau adek bentar lagi ketemu malaikat pencabut hehehehe… ~~Aduh…Ngeri ~~

Jadi ketawa sendiri lihat sms temen2, aya-aya wae mereka

Yach…setidaknya bisa buat aku instropeksi diri, ada yg bilang aku jahat, aku egois. Yang bisa menilai aku toh mereka semua

Powered By Blogger

Pengikut